Kualitas Air Hujan

Kualitas Air Hujan – Hujan merupakan peristiwa alami yang ada di bumi ini, banyak anak kecil yang senang bermain disaat hujan atau yang lebih dikenal dengan hujan-hujanan. Mungkin dulu saat kita masih kecil sering ditakut-takuti dengan penyakit seperti flu, masuk angin, kedinginan atau mriang apabila kita senang hujan-hujanan.

Kualitas Air Hujan

Hal tersebut mungkin bisa saja ada benarnya, karena mungkin saja pada air hujan tersebut dapat mengandung berbagai macam kuman dan kotoran. Oleh karena itu sebaiknya bila setelah hujan-hujanan kita perlu untuk mandi atau setidaknya membersihkan diri dengan air biasa kita gunakan untuk mandi.

Di negara kita sendiri Indonesia merupakan negara yang memiliki masa musim hujan yang relatif lebih panjang. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mulai mengetahui apa saja kandungan air hujan, terutama kandungan kuman penyakit di dalamnya atau unsur maupun senyawa yang terkandungnya.

Baca Juga : Kualitas Air Layak Minum

Bermacam-macam studi dan penelitian tentang kandungan air hujan baik yang turun secara langsung maupun yang telah melewati atap telah mendapatkan kontaminasi zat kimia, hasil perkembangbiakan yang nantinya menjadi suatu organisme atau spora bakteri dan jamur, debris (kotoran yang dihasilkan makhluk hidup) yang sudah busuk, serta polutan maupun zat kimia lainnya.

Menurut hasil studi yang sudah dilakukan oleh Evans CA, dkk terhadap air hujan menemukan bahwa rata-rata jumlah kuman (dari berbagai jenis) yang terkandung pada air hujan setidaknya ada 1.362 bakteri per sampel air hujan yang diteliti.

Jenis bakteri yang sering ditemukan pada air hujan biasanya adalah Coliform atau bakteri yang berasal dari feses atau kotoran. Selain itu bakteri yang bersifat airborne (yang ditularkan lewat udara) juga ditemukan pada sampel air hujan yang diuji, mereka menyimpulkan bahwa anginlah yang beperan membawa bakteri-bakteri tersebut. Kuman-kuman yang menyebabkan infeksi saluran nafas sering ditemukan pula pada sampel.

Sedangkan dari sumber lain ditemukan bahwa air hujan juga mengandung kontaminan biologis atau makhluk hidup seperti bakteri, alga, jamur, dan virus. Bakteri sering ditemukan terkandung dalam air hujan karena memiliki peran utama dalam pembusukan berbagai bahan organik yang berasal dari makhluk hidup seperti dedaunan, pohon, dan lain-lain. Bakteri ini dapat terkandung dalam air hujan baik secara kontak langsung maupun karena tiupan angin.

Memang benar bahwa tidak semua bakteri tersebut akan menyebabkan penyakit, akan tetapi apabila telah terkontaminasi langsung dengan kotoran seperti kotoran burung maupun binatang lain yang terdapat di atap rumah atau bangunan, maka kemungkinan air hujan tersebut akan terkontaminasi oleh bakteri Coliform.

Dari hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa air hujan yang jatuh melewati atap akan berkemungkinan lebih besar dapat terkontaminasi bakteri tersebut. Oleh karena itu sebisa mungkin kita harus menghindari kontak langsung dengan air hujan yang telah jatuh melewati atap untuk setidaknya mengurangi resiko terkena bakteri bekteri tersebut.

Berhubungan dengan kandungan air hujan tersebut, maka resiko kesehatan yang menghantui pada sebagian penduduk kita yang masih mengandalkan tampungan air hujan ini dalam melakukan aktivitas sehari-hari khususnya yang mengalir lewat pinggiran atap. Mereka sering kali tidak paham dengan kandungan air hujan yang melewati atap atau minimnya informasi mengenai ini.

Hal ini akan beresiko apabila air tampungan hujan tersebut digunakan untuk keperluan konsumsi seperti sebagai air minum atau untuk memasak. Air hujan seperti ini sebaiknya digunakan untuk menyiram toilet, membersihkan lantai, dan kegiatan lain yang bukan keperluan konsumsi. Oleh karena itu sebaiknya kita membersihkan tubuh bila terkena air hujan terutama yang telah melewati atap.