Kenalkan Pak Gembus, Sosok di Balik Keberhasilan ” Ayam Gepuk Pak Gembus “

” Saya sampai kini kerja, namun maksudnya adalah untuk mencari modal usaha, ” kata Ridho Nurul Adityawan, mulai pembicaraannya dengan Kompas. com, Jumat (28/7/2017).

Ridho saat ini seringkali di kenal jadi Pak Gembus. Ya, Pak Gembus yang populer dengan ayam gepuknya. Warung ” Ayam Gepuk Pak Gembus ” dengan bannernya yang berwarna kuning seringkali kita temui nyaris di setiap pojok ibu kota.

Bahkan juga, nyaris di semua Indonesia lho. Siapa kira, bermula dari kesukaan Pak Gembus memasak ayam, bisa hasilkan pundi-pundi sampai miliaran rupiah setiap bulannya.

Bagaimana perjuangan Ridho, yang mempunyai nama kecil Gembus, membuat ” Ayam Gepuk Pak Gembus “?

Ridho yang disebut lulusan D3 Politeknik Kampus Diponegoro, Semarang, dahulunya yaitu seseorang pegawai kantoran umum.

Dia sempat bekerja jadi staf di satu perusahaan batu bara di Kalimantan sepanjang 8 bulan. Lalu bekerja jadi staf administrator di PT Wilmar di Sambas sepanjang 1, 2 th., serta jadi Customer Service Inbound di MNC (Indovision) sepanjang 1, 5 th..

Maksudnya bekerja cuma satu, yaitu menyisihkan upah untuk buka usaha. Upah yang di terima sepanjang jadi karyawan cuma sejumlah gaji minimal propinsi (UMP) atau sekitaran Rp 2, 8 juta setiap bulannya.

Dia berusaha menyisihkan upah setiap bulannya sampai pada akhirnya terkumpul uang sebesar Rp 19 juta. Uang itu dikumpulkannya sepanjang 3, 5 th. untuk mulai usaha. Selanjutnya, Ridho mengambil keputusan resign dari MNC serta mulai membuat warung ” Ayam Gepuk Pak Gembus ” di Jalan Pesanggrahan, Jakarta Barat, pada 12 Oktober 2013.

Dia buka warung kaki lima bermodalkan tenda sebesar 3×3 mtr.. Nyatanya, dianya memerlukan modal sampai Rp 23 juta untuk mulai usaha.

Untuk menutupi kekurangan, Ridho berutang sana sini. ” Saya pinjam camera ke rekan kos-kosan saya serta cameranya saya gadaikan. Hingga motor saya Vario 110 cc, di ambil sama leasing, ” kata Ridho.

Sepanjang enam bulan pertama, Ridho melakukan sendiri usahanya. Dia juga yang memasak serta melayani konsumen. Waktu ” Ayam Gepuk Pak Gembus ” baru di buka, dia menyebutkan, 3 ekor ayam saja sulit untuk di habiskan.

Dia pernah menginginkan menyerah karna berutang serta uangnya habis di transportasi. Tetapi, dengan kegigihan, kesabaran, serta mental yang kuat, dia terasa butuh utuk selalu memperjuangkan ” Ayam Gepuk Pak Gembus “. Sebab, di bagian beda, dia juga adalah anak tunggal.

Sempat satu saat, dia terasa suka karna berhasil jual 12 ekor ayam. Ridho memperoleh untung atau laba bersih setiap harinya sekitaran Rp 100. 000-Rp 150. 000. Usahanya mulai tumbuh saat seseorang pelanggannya yang bernama Dani tawarkan usaha franchise.

Ridho yang tidak tahu apa-apa masalah usaha franchise memohon saat sepanjang satu minggu untuk pelajari hal itu. Lalu, Ridho pergi ke warnet serta mencari tahu bagaimana usaha franchise.

” Saya copy paste saja, ada franchise donat, saya ganti donatnya sama ayam gepuk Pak Gembus. Oke 5 hari telah ketemu, buat proposal, saya undang si Kuat Dhani, ” kata Ridho.

Dhani terasa tertarik serta buka dua cabang ” Ayam Gepuk Pak Gembus ” di Mangga Besar serta Kebon Sirih. Ridho cuma bermodalkan banner yang diperlengkapi dengan nomor teleponnya untuk usaha franchise.

Sampai saat ini, ” Ayam Gepuk Pak Gembus ” telah mempunyai 462 cabang se-Asia Tenggara. Awal mulanya, Ridho cuma bisa menggunakan 3 ekor ayam, saat ini setiap warungnya bisa menggunakan 110 ekor ayam apabila dihitung di semua cabang, 12 ton ayam bisa habis dalam sehari.

Banyak cabang yang ia punyai, buat dianya membuat satu induk perusahaan yang diberi nama PT Yellow Food Indonesia. Induk perusahaan itu dibuat mulai sejak Maret 2015.

Awalannya kantor itu jadi satu dengan dapurnya yang ada di Jalan Jomas, Pesanggrahan, Jakarta Barat. Lalu jadi kantor sendiri serta membuat PT pada th. 2016.

” Saya buat PT karna kuota kami juga telah sangat banyak kebutuhannya. PT Yellow Food Indonesia itu anak usahanya ada ayam gepuk Pak Gembus serta Mie Santet, ” kata Ridho.

Karena ” Ayam Gepuk Pak Gembus ” juga, Ridho berjumpa jodohnya. Sang istri adalah pelanggan ayam gepuk yang seringkali datang ke warungnya. Selanjutnya, mereka menikah pada 25 September 2015.